Posted by: doddyurbanus, in Perjalanan

Perjalanan Pelarian.

Pada tanggal 17 Mei 2007 adalah hari libur keagamaan Kenaikan Isa Al Masih yang jatuh pada hari kamis. Seperti biasa pemerintah lalu meliburkan hari jumat-nya sebagai Harpitnas (hari kejepit Nasional). Tentu saja moment ini disambut oleh masyarakat dengan memanfaatkannya untuk berbagai acara termasuk berekreasi. Rabu sore setelah koordinasi dan beberapa persiapan, jadilah kami berlima bertolak ke Yogyakarta dengan menggunakan kendaraan mobil. Entah bagaimana kebersamaan ini bisa terjadi yang biasanya sulit untuk mewujudkannya karena kesibukan masing-masing. Bagi kami momen ini sangat ditunggu karena kesempatannya sangat langka. Seperti kembali ke masa-masa muda dulu, panjangnya waktu tempuh perjalanan seperti tidak terasa. Penuh dengan canda-tawa dan kegilaan sesaat atau mungkin lebih pas disebut “lupa umur”. Bagaimana tidak… selama ini hari-hari kami hanya diisi oleh rutinitas kerja yang seringkali melelahkan, peran dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang mungkin kadang juga terasa “berat”. Maka ketika ada kesempatan seolah lepaslah tekanan-tekanan psikologis dalam bentuk sifat dan sikap yang “norak”. Mungkin benar… ada jiwa kekanakan dalam diri tiap lelaki dewasa…seperti saat itu. Barangkali perjalanan ini lebih mirip sebuah pelarian dari rutinitas keseharian, daripada sebuah upaya mencari hiburan dan rekreasi. Apapun, bagi kami perjalanan ini sangat berarti sebagai sebuah momen kebersamaan dengan para sahabat.

Menggapai Keheningan

Untungnya, dalam eforia kebebasan tersebut, keputusan telah disepakati bersama dengan menentukan tujuan adalah ziarah ke Sendang Sriningsih yang terletak di Kecamatan prambanan yang sarat nuansa Kristiani. Kesepakatan inilah yang pada akhirnya tidak menjerumuskan kearah hal-hal yang melenceng dan mencederai makna kebebasan itu sendiri. Sendang Sriningsih, tempat ziarah berupa mata air abadi dan Gua Maria yang terletak di Gayamharjo, antara Bukit Ijo dan Mintorogo. Bisa dijangkau dengan kendaraan bermotor, berjalan ke selatan setelah sampai di pertigaan pertama setelah Candi Prambanan. Riwayat Sendang Sriningsih dimulai pada tahun 1934, ketika seorang Jesuit bernama D Hardjosuwondo SJ yang ditugaskan di Dusun Jali berkunjung ke sendang yang dulu masih bernama Sendang Duren. Terpesona oleh aura spiritualnya, ia kemudian membangun lokasi sekitar sendang itu menjadi tempat ziarah dan kemudian menamai ulang sendang menjadi Sendang Sriningsih, artinya perantara rahmat Tuhan pada umatnya. Disini umat biasanya melakukan prosesi ibadah dengan mengikuti rute jalan salib yang dirancang berupa tangga-tangga yang menanjak ke atas, kurang lebih panjangnya 900 meter. Seperti di rute jalan salib umumnya, di sepanjang jalan itu terdapat relief-relief yang menceritakan perjalanan Yesus memanggul kayu salib. Selama mengikuti rute itu pula, biasanya umat memanjatkan doanya. Jalan Salib diakhiri ketika anda sampai di pertigaan kecil,berbelok ke kanan dan menjumpai sebuah salib besar dengan patung Yesus terpaku di kayu salib. Lokasi tempat salib itu berdiri dinamai persis seperti nama bukit tempat Yesus disalibkan, yaitu bukit Golgota. Umat biasa menyalakan lilin di bawah salib dan memanjatkan doa. Lokasi sendang dan Gua Maria, berbelok ke kiri dari pertigaan kecil tersebut. Sendang Sriningsih, menurut cerita sudah menjadi danau bawah tanah, sekarang bagian pinggirnya telah disemen dan bagian atasnya ditutup dengan seng untuk menjaga kebersihan air. Jika ingin mengambil air sendang, anda bisa menyalakan kran air yang ada di sebelah kanan belik sendang. Konon, air sendang ini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.. Disnilah tempat umat yang entah datang dari berbagai daerah merenung dalam keheningan alam berkontemplasi…Sungguh… sebuah tempat yang damai. Gua Maria setinggi empat meter tempat peziarah biasa berdevosi terletak di sebelah kanan sendang. Cukup luas tempat bagi peziarah untuk berdoa dan cukup sejuk karena berada di bawah pohon beringin kurung besar. disisi kiri atas Gua Maria, ada sebuah Salib besar, bertuliskan “tertier millenium” lambang pergantian millenium. Ritual ibadah diselenggarakan sembilan kali setahun setiap malam Jumat Kliwon, hari keramat dalam masyarakat Jawa. Saat itu, digelar doa dan misa dengan jumlah peziarah mencapai 3000 orang. Ritual ibadah di malan Jumat Kliwon itu sekaligus menunjukkan adanya perpaduan budaya Jawa dan budaya Katolik di wilayah itu.

Ave Maria Menanti Pagi

Senja itu terdengar alunan lagu Ave Maria-karya komponis J. Sebastian Bach dari paduan suara umat paroki lokal. Syahdu sekali rasanya, segenap rasa menyerbu kalbu. Ada perasaan lain, nyaman, tentram, damai, barangkali ini juga perwujudan dari surga dunia dengan wajah yang berbeda… mungkin. Beberapa muda-mudi duduk bersandingan mesra meski dalam batas-batas kesopanan dan tidak asusila, beberapa orang orang tua tampak khusyuk berdoa, mulutnya berkomat-kamit dalam bahasa yang tidak jelas terdengar. Melihatnya, aku berpikir, bagaimana mungkin mereka mengagungkan Tuhan dengan suara yang tidak jelas begitu ? tetapi ketika kutatap raut wajah dan sinar mata mereka, mengertilah aku… Tuhan amat dekat dengan mereka…seketika itu juga… aku tertunduk… malu… Seusai misa, umat tidak langsung pulang karena beberapa alasan, pertama karena mereka yang datang dari tempat yang agak jauh dan bahkan dari provinsi lain ingin menghabiskan malam hingga menjelang pagi dengan berdoa dan berdevosi di patung bunda Maria, Kedua karena jika hari sudah gelap, tidak ada kendaraan umum, ketiga mereka biasanya ingin berlama-lama menikmati nuansa spiritual yang memang terasa kental. Maka jadilah malam itu malam penuh keakraban dan keramahtamahan. Mereka yang mungkin lelah dan mengantuk cukup tidur beralas tikar, tidak sedikit yang sepanjang malam duduk tepekur berdoa dan bedoa, sebagian lain duduk berbincang, menyerupai suasana konseling. Malam kian larut, udara semakin sejuk dingin, masih banyak mereka yang tetap terjaga menanti pagi. Setelah sejenak berdoa aku tak kuat lagi dan lelap dalam pelukan malam.

Mendaki Bukit Sriningsih

Kira-kira pukul 05.00, sebagian besar umat tampak berkemas dan setelah melakukan doa pagi mereka segera bergerak turun untuk kemudian kembali pulang. Cuaca pagi itu tampak cerah kupikir bagus untuk “hiking”, ditemani seorang kenalan baru “Wawan” pemuda dari desa ndeles Klaten, kususuri jalan setapak dibelakang Sendang menuju keatas bukit dengan banyak tanjakan terjal. Cukup melelahkan karena lokasi yang terus mendaki, pinggang serasa mau patah, baru sadar sekarang umur sudah kepala empat lebih, fisik tak lagi se-prima dulu, tapi aku masih bisa berbangga karena tak sekalipun kuhentikan langkahku dibanding rekanku Wawan yang jauh lebih muda yang sesekali berhenti untuk menarik nafas dan mengumpulkan tenaga. Tiba di puncak bukit Mintorogo yang menaungi sendang Sriningsih, kelelahan selama empat puluh menit perjalanan segera terbayar, pemadangan dari puncak ini sangat mempesona.Surya baru saja bangun dari peraduannya dan mengintip dibalik mega pagi, sinar kuningnya berpendar menembus sela-sela kabut tipis menimbulkan efek bias yang menyentuh rasa, melihatnya aku merasa bahwa ini adalah pesan dari Tuhan untuk senantiasa mencintai alam dan segala isinya. Disini dipuncak Bukit Mintorogo aku berdiri menatap jauh kedepan, menyaksikan kerlip kilau cahya mentari menari-nari diatas permukaan air waduk Jombor… Aaahh… sungguh sebuah opera alam yang luar biasa indah, alangkah agung Penciptanya Angin lembah lirih mengusap wajah, dingin, sejuk. Sekejap seperti sebuah energi baru menyergap kalbu. Reflek, kupejamkan mata, kututup semua panca indra dan kubuka segenap mata batin. Perlahan, rasa itu hadir.Lirih, suara itu sayup terdengar…… Eling nggeeer… Oooh… apakah aku sedang bermimpi??? Suara itu amat kukenal… mungkinkah??? Yaaa… itu suara Bapak… disurga… mohonlah selalu pada Gusti hati yang damai… agak lamat suara itu hadir sekali lagi untuk kemudian senyap… Nggiiih Paak… sembah nuwun… batinku menjawab. Hening… kicau burung prenjak bercericit memecah dimensi sunyi hati kealam nyata. Terpekur kucoba memaknai peristiwa barusan. Diiring doa Bapa kami-Salam Maria, kubersimpuh takjim dengan sebuah janji dalam hati untuk senantiasa Eling. Bapak… terima kasih.

Perbincangan yang Mengharukan

Di pendopo, masih ada beberapa keluarga yang tetap tinggal untuk sekedar bantu-bantu membersihkan lokasi sendang. Kuperhatikan wajah-wajah mereka rata-rata beraura damai, mungkin telah mendapat pencerahan semalam… senang aku melihatnya. Seorang sahabatku Bergas tampak menyapu dedaunan di pelataran devosi di bawah patung Bunda Maria. hebat batinku… seorang bankir terkemuka mau-maunya bergabung dengan tukang sapu petugas kebersihan setempat, apa yang melatar belakangi?? Tapi aaahh sudahlah aku tak hendak menggodanya, biar dia menghayati kesadarannya tanpa diganggu oleh canda gurau. Di Pendopo Sahabatku yang lain Budi alias “Blenk” sedang asyik tidur terlentang sambil dipijiti oleh sorang bapak tua penduduk setempat, tubuhnya yang tambun menggeliat-geliat, mungkin menahan rasa antara sakit atau geli-geli, aku tersenyum geli melihatnya Disudut lain, diatas batu sahabatku Wihadi alias “Pie” alias “Heru” kelihatan duduk… melamun barangkali… Aku tidak tahu persis bagaimana suasana hatinya saat itu, aku juga tak hendak mengusiknya, barangkali ia sedang berkontemplasi, atau bahkan mungkin sedang menyusun rencana-rencana hidupnya kedepan? Entahlah, meskipun sahabat satu ini adalah seorang yang juga humoris, namun memang kadang menjadi sangat serius dan tak mudah ditebak, aaahh biarlah. Ada sebuah keluarga kecil, ayah, Ibu dan seorang anak perempuan usia 5 tahun yang telah tiga hari menginap. Keluarga ini segera menarik perhatianku karena figur bapak muda yang sangat ramah dan tampak menanggung sesuatu. Benar saja firasatku, bapak ini ternyata datang dari sidoarjo, tepatnya sebagai korban lumpur Lapindo. Kami segera akrab dengan keluarga ini. Mas Yus, begitu nama kepala keluarga ini, beliau berkepribadian ramah dan terbuka. Menurut ceritanya, mereka sengaja datang ke tempat ini untuk mencari ketenangan bathin dengan berdoa semoga uang kompensasi yang dijanjikan pemerintah sebagai pengganti tempat tinggal mereka yang tenggelam dalam lumpur segera bisa segera diterima, meski baru 20 % dimuka. Saat ini mereka ditampung di tenda-tenda pengungsian dengan fasilitas yang kurang memadai. Seperti menerawang… mas Yus bercerita lirih; Saya harus tetap kuat dan tabah mas…! Agar istri dan anak saya yang tinggal satu juga kuat… Penderitaan begitu tiba-tiba dan sekejab merengut Kebahagian kami… Harta benda sudah tak punya lagi…semua amblas… tertelan lumpur… Dan terjual untuk makan kami sehari-hari… Putra sulung kamipun yang berusia 8 tahun ikut terenggut dari pelukan kami… Ketika gas dari luapan lumpur meracuninya sehingga ia menderita ISPA dan tak tertolong lagi bersama beberapa anak lain tetanga kami… Kalau dibilang hancur… yaa remuk tenan atiku mas… tapi saya sekuat tenaga mencoba untuk bertahan dan berharap tidak jadi gila… Tapi yaah sudahlah mas, mungkin memang ini jalan yang harus tak tempuh… Mudah-mudahan… masih ada waktu bagi saya untuk lanjut kedepan mas… Harapan saya Cuma satu… putri bungsuku ini punya hak untuk terus tumbuh kembang dan mencapai masa depannya… itu tanggung jawabku sekarang mas… Lhooo…. Sori ya mas… aku kok jadi curhat sama sampeyan… Siang ini saya akan kembali ke sidoarjo mas… naik sepur jam 14.00 Buuu… cepakno klambi, Arsih arep tak adusi… Sori ya mas… aku mau mandiin putriku… sambil siap-siap mau kembali… seneng lho ngobrol-ngobrol sama sampeyan semua… Ooooh monggo mas Yus…monggo, kami serempak menjawab. Mas yus membopong putrinya menuju belik sendang, tampak jelas figur seorang bapak yang penuh kasih pada buah hatinya. Istrinya segera mohon ijin untuk menyiapkan beberapa keperluan. Kami beringsut dari perbicangan yang mengharukan barusan. Tenggorokan serasa tercekat, dada dipenuhi keharuan, betapa saudara kami ini menanggung beban yang tak terperi. Tak terbayangkan olehku jika ini terjadi dalam kehidupan kami, mungkin saja kami tak sekuat mas Yus. Terasa betapa kecilnya aku di hadapan mas Yus yang tengah diuji ini. Kami percaya mas yus dan keluarganya akan sanggup menempuh badai kehidupan yang terberat sekalipun. Kami percaya meski saat ini pintu kebahagiaan seakan tertutup, ada pintu yang tengah dipersiapkan oleh Sang Hyang Agung. Sebuah pintu kebahagiaan yang lain bagi keluarga mas Yus. Aku menyesal tak dapat berbuat sesuatu untuknya, hanya sebuah pesan kecil saat ia berpamitan pulang; Mas Yus… tabah ya mas… semoga setelah ini akan ada jalan terangNYA… Gusti Allah mboten sare Mas!!! Matur nuwun lho mas-mas semua… kalau ada umur kita pasti akan ketemu lagi… Selamat jalan mas Yus…

Mbah Kardi yang Bahagia

Usai perbincangan yang mengharukan tadi, berat kulangkahkan kaki. Bersama sahabatku yang juga turut berbincang dengan mas Yus, kami menuju ke sebuah rumah sederhana 50 meter disebelah kiri pelataran pendopo. Rumah milik seorang tua yang bersahaja namun masih tampak sehat dan kuat bekerja. Mbah Kardi namanya. Sehari-harinya mbah ini lebih sering bertelanjang dada sehingga kulitnya nampak merah hitam seperti tembaga. Gaya bahasanya yang sareh dan lugu menghangatkan suasana. Kami “ngopi, nge-teh dan sarapan dirumahnya, karena memang rumahnya juga membuka warung kecil-kecilan. Dengan senyumnya yang bersahaja namun tulus mBok kardi dengan cekatan melayani kami. Beliau bercerita bahwa empat anak-anaknya sudah berkeluarga dan pergi merantau mencari penghidupannya sendiri-sendiri. Sekarang mbah dan mbok Kardi hanya tinggal berdua saja. Mereka masih tetap bekerja untuk menghabiskan sisa usia mereka. Satu hal yang kutangkap dari obrolan kami dengan mbah Kardi adalah bahwa meskipun tidak tiap tahun anak-anaknya pulang ke rumah, mbah Kardi mengaku bahagia karena mereka telah dapat menentukan dan menemukan kehidupannya sendiri-sendiri dan tidak mau mengikatnya. Meskipun mereka semua adalah anak-anak kandung saya, tapi mereka sebenarnya adalah milik kehidupan, saya hanya lantaran saking Gusti Allah… Urip iku sak dermo ngombe… Ucapnya.Begitu kira-kira arti yang disampaikan pada kami dalam bahasa jawa. Mbah Kardi yang bahagia.

Air Belik Sendang

Usai sarapan dan ngopi di rumah mbah Kardi, kami minta ijin untuk numpang mandi dirumahnya. Tentu saja beliau mempersilahkan dengan sukacita. Air di kamar mandi mbah Kardi berasal dari satu sumber dengan belik sendang Sriningsih. Airnya bersih dan segar. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan tubuh kotor luar dalam ini. Kubasuhkan ke wajah, mata, tengkuk, rambut, telinga, mulut, tangan dan kaki. …Oooh… airmu membersihkan… …Sejukmu… menentramkan… …Beningmu menyucikan… …Segarmu… menguatkan… Banyak orang percaya akan tuah air belik sendang Sriningsih yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun aku hanya berharap semoga air belik sendang Sriningsih ini dapat membersihkan tubuh dan jiwaku dalam arti sesungguhnya. Semoga tuah air sendang menguatkanku agar mampu melakukan beberapa perubahan dan perbaikan sikap perilaku yang lebih baik, lebih rendah hati, lebih mengasihi, lebih bersyukur, lebih dewasa,dan bersedia untuk saling berbagi pada sesama. Tiba saat kami meninggalkan sendang Sriningsih. Berat rasanya meninggalkan tempat ini. Kami merasakan, sesungguhnya ada banyak surga si dunia fana ini, namun kami juga sadar bahwa sesungguhnya surga itu juga ada dalam hati dan jiwa kami sendiri. Selamat tinggal Bunda Maria, tetaplah bersemayam dalam sanubari kami. Airnya bersih dan segar. Kumanfaatkan kesempatan ini untuk membersihkan tubuh kotor luar dalam ini. Kubasuhkan ke wajah, mata, tengkuk, rambut, telinga, mulut, tangan dan kaki. …Oooh… airmu membersihkan… …Sejukmu… menentramkan… …Beningmu menyucikan… …Segarmu… menguatkan… Banyak orang percaya akan tuah air belik sendang Sriningsih yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun aku hanya berharap semoga air belik sendang Sriningsih ini dapat membersihkan tubuh dan jiwaku dalam arti sesungguhnya. Semoga tuah air sendang menguatkanku agar mampu melakukan beberapa perubahan dan perbaikan sikap perilaku yang lebih baik, lebih rendah hati, lebih mengasihi, lebih bersyukur, lebih dewasa,dan bersedia untuk saling berbagi pada sesama. Tiba saat kami meninggalkan sendang Sriningsih. Berat rasanya meninggalkan tempat ini. Kami merasakan, sesungguhnya ada banyak surga si dunia fana ini, namun kami juga sadar bahwa sesungguhnya surga itu juga ada dalam hati dan jiwa kami sendiri. Selamat tinggal Bunda Maria, tetaplah bersemayam dalam sanubari kami.

Bertemu Yesus dalam Wajah Jawa

Sebelum pada akhirnya pulang ke Jakarta, kami menyempatkan untuk mengunjungi tempat kudus lainnya di Ganjuran. Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, demikian nama lengkapnya, lebih kurang 20 km dari pusat kota Yogyakarta. Pemandangan sawah yang hijau dan pohon serupa cemara seperti hiasan penyambutan selamat datang di Desa Ganjuran, tempat gereja ini berdiri. Informasi singkat yang kami terima dari beberapa sumber adalah sejarah gereja dan inkulturasi Katolik dengan budaya Jawa. Kompleks gereja Ganjuran mulai dibangun pada tahun 1924 oleh dua bersaudara keturunan Belanda, Joseph Smutzer dan Julius Smutzer. Gereja ini merupakan salah satu bangunan yang didirikan sejak dua bersaudara itu mulai mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro di daerah tersebut pada tahun 1912. Bangunan lain yang didirikan adalah 12 sekolah dan sebuah klinik yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Panti Rapih. Pembangunan gereja yang dirancang oleh arsitek Belanda J Yh van Oyen ini adalah salah satu bentuk semangat sosial gereja (Rerum Navarum) yang dimiliki Smutzer bersaudara, yaitu semangat mencintai sesama, khususnya kesejahteraan masyarakat setempat yang kebanyakan menjadi karyawan di Pabrik Gula Gondang Lipuro yang mencapai masa keemasan pada tahun 1918-1930. Dalam perkembangannya, kompleks gereja ini disempurnakan dengan pembangunan candi yang dinamai Candi Hati Kudus Yesus pada tahun 1927. Candi dengan teras berhias relief bunga teratai dan patung Kristus dengan pakaian Jawa itu kemudian menjadi pilihan lain tempat melaksanakan misa dan ziarah, selain di dalam gereja, yang menawarkan kedekatan dengan budaya Jawa. Berjalan keliling gereja akan tampak bahwa bangunan ini dirancang dengan perpaduan gaya Eropa, Hindu dan Jawa. Gaya Eropa dapat ditemui pada bentuk bangunan berupa salib bila dilihat dari udara, sementara gaya Jawa bisa dilihat pada atap yang berbentuk tajug, bisa digunakan sebagai atap tempat ibadah. Atap itu disokong oleh empat tiang kayu jati, melambangkan empat penulis Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Para peziarah bisa menuju tempat pengambilan air suci yang berada di sebelah kiri candi lalu duduk bersimpuh di depan candi dan memanjatkan doa permohonan. Masuk ke dalam candi dan memanjatkan doa di depan patung Kristus. Setiap hari kamis hingga Minggu pukul 5.30 Gereja ini biasa mengadakan misa dalam bahasa Jawa dan nyanyian lagu yang diiringi gamelan, setiap malam Jumat pertama, setiap malam Natal dan setiap Sabtu Sore pukul 17.00. Misa dalam bahasa Jawa itu digelar di pelataran candi Usai melaksanakan doa, aku sempatkan berincang dengan para pedagang sambil membeli beberapa produk souvenir. Penduduk disini sebagaian besar beragama Katholik sehingga aku tak canggung berdiskusi dengan mereka. Begini cerita yang kudapat; Dalam Babad tanah Jawa, Ganjuran adalah sebuah wilayah Alas Mentaok yang dinamakan Lipuro. Tempat itu dahulu sempat digunakan Panembahan Senopati untuk bertapa dan direncanakan menjadi pusat kerajaan Mataram, namun batal. Perubahan nama menjadi Ganjuran sendiri berkaitan dengan kisah percintaan Ki Ageng Mangir dan Rara Pembayun yang diasingkan oleh Mataram. Kisah cinta dua orang tersebut yang kemudian mengilhami penciptaan tembang Kala Ganjur, berarti tali pengikat dasar manusia dalam mengarungi kehidupan bersama dengan dasar cinta. Nah, dari nama tembang tersebutlah desa yang dulu bernama Lipuro itu berubah menjadi Ganjuran. Ternyata Ganjuran menyimpan cerita sejarah yang sangat menarik, banyak lagi cerita yang bisa digali, misalnya alasan dibatalkannya Lipuro menjadi pusat kerajaan Mataram, alasan pengasingan Ki Ageng Mangir dan Roro Pembayun dan sebagainya. Jika saja waktu kami lebih panjang lagi, ingin rasanya aku mendengar cerita-cerita bernuansa sejarah. Budaya Jawa memang luar biasa dalam hal inkulturasi. Etnik apapun, agama apapun jika masuk dalam atmosfir budaya jawa, semuanya akan begitu saja melebur dan berinkulturasi yang justru menemukan bentuk tradisi baru yang tidak menghilangkan esensi inti dari kebudayaan asli jawa itu sendiri. Unik memang. Sore ini juga, kami langsung meluncur menuju Jakarta. Pulang ke surga kami sendiri… Keluarga… ya tentu saja… keluarga memang harus kami jadikan surga kami sendiri, tempat kami berlindung dari situasi dunia yang makin kritis dan penuh intrik. Selamat tinggal Yogyakarta, tiap sudutmu selalu saja merindukan.

http://doddyurbanus.blog.plasa.com/2009/04/11/sendang-sriningsih/#respond This entry was posted on Saturday, April 11th, 2009 at 2:52 am and is filed under Perjalanan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.